Cara Cepat Membuat Peta Kemiringan Lereng (Morfometri) di Global Mapper

Hai teman-teman! Di judul postingan kali ini saya menambahkan kata “CEPAT”. Kenapa harus ada kata cepat? Memangnya yang lain lambat ya?

Begini, saya cerita sedikit dulu. Menurut buku panduan pemetaan Geologi Unpad, salah satu elemen dalam pembuatan peta geomorfologi adalah morfometri. Morfometri yang digunakan disini adalah kemiringan lereng saja. Yaaa, meskipun sebenarnya morfometri itu bukan hanya kemiringan lereng saja, tetapi ada lagi yang lainnya seperti rasio bifurkasi, kerapatan drainase DAS, koefisien kebundaran DAS, dll.

Waktu saya masih kuliah, membuat peta kemiringan lereng itu buatnya manual. Petanya di print dulu dengan ukuran sebenarnya, kemudian buat kotak-kotak kecil berukuran 2×2 cm di peta yang luasnya 40×40 cm (karena saya dulu pemetaan geologi luas daerahnya 5×5 km dengan skala peta 1:12500), terus di kotak itu diukur pake penggaris yang memotong kontur dalam satu kotak, lalu dimasukan ke rumus menghitung kemiringan lerengnya van Zuidam. Itu baru satu kotak. Sementara di peta itu ada jumlahnya 400 kotak! Ribet ya? MEMANG!

Meskipun zaman sekarang perhitungan kemiringan lereng bisa dilakukan di MapInfo atau ArcGIS, tetap saja ada algoritma yang harus kita tulis di “script” agar keluar hasil perhitungan kemiringan lereng sesuai dengan rumus yang ada. Ada juga beberapa cara lainnya, tapi intinya cara-cara tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk sekadar membuat perhitungan kemiringan lereng. Dan itu masih berupa kotak-kotak sebanyak 400, belum lagi harus kita delineasi ulang agar mengikuti konturnya.

Nah, disini kita akan belajar cara cepat membuat peta kemiringan lereng menggunakan software Global Mapper tanpa harus di-delineasi lagi. Metode ini sudah langsung membentuk kontur! Mari kita mulai!

Oh iya, yang kita butuhkan disini cukup klasifikasi kemiringan lereng yang dibuat oleh van Zuidam (1985). Berikut klasifikasinya:

Tabel 1. Hubungan kelas lereng dengan sifat-sifat proses dan kondisi lahan disertai simbol warna  yang  disarankan (Sumber: van Zuidam, 1985).

Kelas Lereng

Proses, Karakteristik dan Kondisi lahan Simbol warna  yang disarankan

00 – 20

(0 – 2%)

Datar atau hampi datar, tidak ada erosi yang besar, dapat diolah dengan mudah dalam kondisi kering.

Hijau tua

20 – 40

(2 – 7%)

Lahan memiliki kemiringan lereng landai, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, pengikisan dan erosi akan meninggalkan bekas yang sangat dalam.

Hijau Muda

40 – 80

(7 – 15%)

Lahan memiliki kemiringan lereng landai sampai curam, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, sangat rawan terhadap erosi.

Kuning Muda

80 – 160

(15 – 30%)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam, rawan terhadap bahaya longsor, erosi permukaan dan erosi alur.

Kuning Tua

160 – 350

(30 – 70%)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam sampai terjal, sering terjadi erosi dan gerakan tanah dengan kecepatan yang perlahan – lahan. Daerah rawan erosi dan longsor.

Merah Muda

350 – 550

(70 – 140%)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, sering ditemukan singkapan batuan, rawan terhadap erosi.

Merah Tua

> 550

( > 140% )

Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, singkapan batuan muncul di permukaan, rawan tergadap longsor batuan.

Ungu Tua

Disini saya menggunakan Global Mapper versi 17 yaa. Mungkin ada sedikit perbedaan tampilan di Global Mapper versi yang lebih rendah.

1. Pertama-tama, buka Global Mapper dan langsung saja buka file SRTM yang sudah kita download beserta kavlingnya. Buat yang belum tau cara download file SRTM yang sudah sesuai dengan kavling penelitian bisa lihat dulu postingan yang ini.

2. Ubah opsi “Atlas Shader” menjadi “Add Custom Shader…”. Disini kita akan membuat klasifikasi sendiri berdasarkan kemiringan lerengnya.

langkah 1

3. Maka kotak dialog Custom Shader pun akan muncul. Ubah kotak isian “Name” menjadi “Morfometri”. Kemudian, berikan tanda checklist pada opsi “Shade Slope Values (Degrees) Rather than Elevations” dibagian paling bawah kotak dialog. Otomatis dua opsi diatasnya tidak akan bisa di-checklist. Hal ini agar kita hanya tinggal memasukkan nilai kemiringan lerengnya (slope) saja.

Pada kotak isian “Height/Slope:”, masukan nilai kemiringan lerengnya dengan satuan derajat (bukan satuan presentasenya). Disini kita hanya memasukkan nilai tertingginya saja. Misal: untuk kemiringan 00 – 20, kita masukan angka 2 saja. Kemudian klik button “Add” disampingnya. Maka kotak dialog Color akan muncul. Pilih warna berdasarkan warna kemiringan lereng menurut klasifikasi van Zuidam (1985). Jika sudah, klik “OK”. Maka nilai klasifikasi lereng akan muncul di kolom “Elevation/Slope Colors”. Lakukan hal yang sama untuk nilai kemiringan lereng 20 – 40, 40 – 80, 80 – 160, 160 – 350, 350 – 550, dan 550 – 890. Jika sudah, klik “OK”.

langkah 2

4. Akan muncul peta kemiringan lereng namun kenampakannya seperti 3D. Agar bisa menjadi 2D, klik “Enable/Disable Hill Shading” di samping kolom opsi “Morfometri” pada toolbar. Klik sampai button-nya timbul, dan peta kemiringan lereng sudah jadi!

langkah 3

Kita juga bisa meng-export gambar ini ke software GIS lainnya seperti MapInfo dan ArcGIS agar bisa dibuka di software GIS tersebut. Caranya, buka saja menu File –> Export –> Export Raster/Image Format… maka akan muncuk kotak dialog Select Export Format. Pilih opsi “GeoTIFF”. Kemudian klik “OK” dan kotak dialog GeoTIFF Export Option akan muncul.

Pada tab GeoTIFF Option, di pilihan “File Type”checklist pilihan “24-bit RGB (Full Color, May Create Large File). Untuk opsi lainnya, lihat pada gambar dibawah ini. Atau jika kualitas gambar ingin lebih baik lagi, maka atur saja pilihan yang ada sesuai selera.

langkah 4

Kemudian pilih tab Export Bounds. Klik “Draw a Box…”. Buat kotak yang mengikuti peta pada kotak dialog Drag a Box to Select Export Bounds. Jika sudah klik “OK” dan klik “OK” lagi untuk menutup kotak dialog GeoTIFF Export Option, kemudian pilih lokasi/ folder untuk menyimpannya. Tunggu hingga rendering selesai dan peta bisa dibuka oleh software berbasis GIS lainnya.

langkah 5

Nah, itu tadi cara cepat untuk membuat peta kemiringan lereng di Global Mapper. Baagaimana? Jauh lebih cepat bukan?

Sekian dulu ilmu yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga bisa menambah kemampuan teman-teman dalam menggunakan software.

Terima kasih, dan……. selamat berlatih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s